Minggu, 25 April 2021
Mengapa kemaksiatan masih merebak pada bulan Ramadlan, padahal setan dibelenggu?
Zakat fitrah dan penyebab menanggung fitrah orang lain ( panduan lengkap zakat fitrah)
PANDUAN LENGKAP ZAKAT FITRAH
dan pembawaan manusia (suci dari dosa).
Menurut istilah adalah kadar yang harus
dikeluarkan sebab badan. Dinamakan dengan
zakat fitrah, karena zakat fitrah mensucikan
badan dan meningkatkan amaliyahnya.
Menurut konsensus ulama (ijma’), hukum
mengeluarkan zakat fitrah adalah wajib.
1. SYARAT WAJIB ZAKAT FITRAH
Berikut ini syarat-syarat diwajibkannya zakat
fitrah:
1. Pelakunya bukan hamba sahaya. Dengan
demikian tidak wajib bagi seorang hamba
mengeluarkan fitrah bagi dirinya, meskipun
bagi sayyid (tuan pemiliknya) wajib
mengeluarkan fitrah baginya.
(Lihat Abu Bakr bin Muhammad Syatha dalam Hasyiyah Ianah al tholibin.)
2. Muslim yang menemukan satu waktu dari
bulan Ramadlan dan bulan Syawal. Dengan
demikian, tidak wajib bagi bayi yang lahir
setelah tenggelamnya matahari tanggal 1
Syawal.
Begitu juga bagi orang yang meninggal
sebelum menemui waktu
tersebut.
3. Melebihi dari biaya hidupnya dan biaya
hidup orang-orang yang wajib ia nafkahi
selama sehari semalam pada tanggal 1sawal.
4. Melebihi dari hutangnya meskipun belum
jatuh masa tempo. Demikian menurut
pendapat Ibnu Hajar.
Sementara menurut
Imam al-Ramli, hutang yang belum jatuh
masa temponya, tidak dapat menghambat
kewajiban zakat meskipun nominalnya
sampai menghabiskan harta seseorang.
5. Melebihi dari biaya hidup pembantu dan
fasilitas rumah yang keduanya layak.
PENYEBAB MENANGGUNG ZAKAT
FITRAH ORANG LAIN
Zakat fitrah, disamping wajib dikeluarkan
untuk diri sendiri, juga wajib dikeluarkan bagi
orang-orang tertentu. Berikut ini sebab-sebab
yang menjadikan seseorang wajib menanggung
fitrahnya orang lain :
1. Hubungan antara tuan dan hamba
sahayanya.
Dengan demikian, wajib bagi sayyid
mengeluarkan fitrah hambanya.
2. Hubungan pernikahan. Dengan demikian
wajib bagi suami mengeluarkan zakat fitrah
untuk istrinya.
3. Hubungan kekerabatan. Dengan demikian
wajib bagi orang tua mengeluarkan zakat
fitrah untuk anaknya yang masih kecil atau
gila.
Catatan :
Tidak sah bagi orang tua mengeluarkan
zakat fitrah untuk anak yang sudah tidak lagi
wajib dinafkahi, seperti anak yang sudah aqil
baligh. Hal ini jika dilakukan tanpa izin dari si
anak yang bersangkutan. Sementara jika ada
izin, maka sah.
lihat ( Abu Bakr al-Hishni, Kifayah al-Akhyar, juz.1 hal.194)
HARTA YANG DIKELUARKAN DAN
KADARNYA
Dalam zakat fitrah, yang wajib dikeluarkan
adalah makanan pokok penduduk setempat.
Seperti beras untuk mayoritas penduduk
Indonesia. Sementara untuk kadarnya adalah 1
Sha’. Hanya saja, dalam mengkonversikannya
ke dalam ukuran kilogram, terdapat beberapa
versi sebagai berikut :
1. Versi kitab al-Taqrirat al-Sadidah 2,75 Kg.
2. Versi kitab Mukhtashar Tasyyid al-Bunyân 2,5
Kg.
3. Versi sebagian ulama yang dikutip dalam
kitab al-Taqrirât al-Sadidah 3 kg.
* Catatan.
1. Bahan makanan yang digunakan zakat
harus sejenis (tidak campuran). Semisal
beras dan jagung.
2 . Jika tidak mampu 1 Sha’, maka
dikeluarkan semampunya.
4. NIAT ZAKAT FITRAH
Zakat fitrah merupakan ibadah fardlu yang
sudah pasti membutuhkan niat. Melihat
fenomena zakat fitrah yang memungkinkan
dilakukan oleh orang lain (yang menanggung
nafkahnya atau yang mendapat izin dari orang
yang dizakati), maka muzakki dalam zakat
fitrah
ada tiga macam :
1. Zakat untuk dirinya sendiri.
Apabila zakat fitrah atas nama dirinya sendiri
(muzakki), maka yang niat adalah muzakki itu
sendiri (muzakki).
2. Zakat untuk orang yang ditanggung
fitrahnya.
Apabila zakat atas nama orang lain, yang
fitrahnya menjadi tanggungan dari muzakki,
maka yang melakukan niat adalah muzakki
tanpa harus mendapat izin dari orang yang
dizakati Seperti seorang suami (kepala
rumah tangga)
mengeluarkan zakat atas nama istrinya,
anaknya
yang masih kecil, orang tua yang tidak mampu.
Juga di perbolehkan bagi muzakki, untuk
memberikan zakat tersebut pada orang yang
akan dizakati (semisal diberikan pada anaknya
yang masih kecil atau istrinya) agar dia
melakukan niat sendiri.
3. Zakat untuk orang yang tidak ditanggug
fitrahnya.
Apabila zakat atas nama orang lain, yang
fitrahnya tidak menjadi tanggungan dari
muzakki,
maka zakat dan niat dari muzakki dihukumi
sah apabila sudah mendapat izin dari orang
yangdizakati.
Seperti seseorang mengeluarkan zakat atas
nama orang lain atau anaknya yang sudah
baligh
( yang fitrahnya tidak menjadi tanggungan
muzakki) Maka zakat dan niat dari muzakki
dihukumi sah (bisa menggugurkan kewajiban
fitrahnya orang yang dizakati) jika muzakki
telah mendapat izin dari orang yang dizakati.
Seperti seorang suami (kepala rumah tangga)
mengeluarkan zakat atas nama istrinya,
anaknya
yang masih kecil, orang tua yang tidak mampu.
Juga di perbolehkan bagi muzakki, untuk
memberikan zakat tersebut pada orang yang
akan dizakati (semisal diberikan pada anaknya
yang masih kecil atau istrinya) agar dia
melakukan niat sendiri.
TATA CARA NIAT ZAKAT FITRAH
1. Zakat untuk dirinya sendiri
نَوَيۡتُ اَنۡ أُخۡرِجَ زَكاَةَ الفِطۡر عَنۡ نفۡسِ لِله تَعالی
“Saya niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diri
saya sendiri,karena Allah SWT”
2. Zakat untuk orang yang ditanggung
fitrahnya:
ِنَوَيۡتُ اَنۡ أُخۡرِجَ زَكاَةَ الفِطۡر عَنۡ زَوجَتِي / ولَدِي لِله تَعالی
“Saya niat mengeluarkan zakat fitrah untuk
istriku/anakku,karena Allah SWT “.
6. PELAKSANAAN NIAT
Niat zakat fitrah boleh dilakukan pada salah
satu waktu berikut ini:
1. Saat memisahkan makanan pokok yang
digunakan zakat
2. Saat memberikan zakat pada orang yang
berhak menerimanya
3. Saat memberikan zakat kepada wakil.
A. Doa saat menyerahkan zakat
ربَّناَ تَقَبَّل مِنّا إِنَّكَ أَنۡتَ السَّمِيۡعُ الَعَلِيۡم
”Ya Tuhan kami, terimalah (amal ibadah) dari kami.
Sesungguhnya engkau maha mendengar lagi maha
mengetahui”
B. Doa saat menerima zakat:
أَجَرَكَ الّله فِيما أَعطَيتَ وَجَعَلَهاَ لَكَ طَهُوراً
”Mudah-mudahan Allah memberi pahala atas apa
yang engkau berikan dan menjadikannya sebagai
pembersih bagimu, serta memberikan berkah atas
apa yang masih ada di tanganmu.
7. WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT
FITRAH.
Waktu pelaksanaan zakat fitrah terbagi
menjadi 5 kelompok :
1. Waktu jawaz (waktu boleh), yaitu sejak
awalnya bulan Ramadlan sampai memasuki
waktu wajib (malam hari raya). Artinya zakat
fitrah boleh dikeluarkan sejak awalnya bulan
Ramadlan, bukan sebelum Ramadlan.
2. Waktu wajib yaitu, ketika menemui bulan
Ramadlan dan menemui sebagaian awalnya
bulan syawal. Oleh sebab itu orang yang
meninggal setelah magribnya malam satu
syawal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang
lahir setelah maghribnya malam satu syawal
tidak wajib dizakati.
3. Waktu sunah yaitu, sebelum melakukan
sholat hari raya. Hal ini sesuai dengan yang
dilakukan Rasulullah saw. dan sesuai dengan
fungsi dari zakat fitrah “mencukupi
kebutuhan fakir miskin di hari raya”.
4. Waktu makruh yaitu, setelah shalat hari raya
sampai menjelang tenggelamnya matahari
pada tanggal 1 syawal.
5. Waktu haram yaitu, setelah tenggelamnya
matahari tanggal 1 syawal. Mengakhirkan
zakat fitrah hingga waktu tersebut hukumnya
haram apabila tidak ada udzur. Jika terdapat
udzur, seperti hartanya tidak ada di tempat
tersebut atau menunggu orang yang berhak
menerima zakat, maka hukumnya tidak
haram. Sedangkan status dari zakat
yangdikeluarkan setelah tanggal 1 syawal
adalah qodho...
Sekian dan trimakasih..
Qurban untuk almarhum orang tua sah kah ?
Bismillahirahmanirrahim.
Sudah sekitar 10 tahun silam orang tua toni meninggal dunia. Kini setelah ekonomi toni mapan, ia ingin berqurban seokor kambing yang mana kambing tersebut di tunjukan sebagai kurban orang tua . Menjelang hari raya idhul adha tiba , ia membeli seekor kambing yang tergolong besar sebagai qurban atas nama orang tuanya yang sudah meninggal , katakanlah ayahnya...
Pertanyaanya :
Apakah sah berqurban untuk ayahnya yang sudah meninggal...?
Jawaban :
A. Sah namun jika ada wasiat dari ayahnya almarhum. Karena wasiat menandakan adanya izin darinya. Hal ini berdasarkan qurban yang dilakukan oleh sayyidina Ali R.a. atas dasar perintah nabi muhammmad sallallohualaihi wassallam.
أَنَهُ كاَنَ يُضَحِّی بِكَبْشَيْنِ أَحَدُهُما عَن النَّبي ﷺ والأخَر عَنْ نَفۡسِهِ فَقِيۡل لَهُ فقال أَمَرَنِي بِهِ يَعۡنِي النَّبِي فَلا اَدعُهُ ابَدا( رَوَاه الترمِدي )
Sesungguhnya aly R.A berkurban dua kambing domba salah satunya untuk Nabi S.a.w. dan salah satunya lagi untuk dirinya. Kemudian dia ditanya akan perbuatanya. Aly menjawab: Nabi Saw. memerintahkanku untuk melakukannya dan aku tidak akan meninggalkan selamanya. ?(HR.Aturmudzi).
B. Jika tidak ada wasiat,
maka ada dua pendapat.
* Menurut qoul ashoh, hukumnya tidak sah karena tidak ada izin dari Almarhum. Sehingga tidak bisa. Di statuskan sebagai kurban dari almarhum.
*Menurut muqobil ashoh
Hukumnya tetap sah karena qurban tergolong sedekah. Dimana sedekah sah di atasnamakan untuk orang yang telah meninggal.
CATATAN...
JIKA QURBAN UNTUK DIRINYA HANYA PAHALANYA DI PERUNTUKAN PADA ORANG TUANYA YANG MENINGGAL MAKA SEMUA AHLI SUNNAH SEPAKAT SAH..
REFERENSI
1. Mugni Muhtaj ila makrifati alfadi al minhaj hal 368 juz 4 cetakan darul kutub alamiah
2. Al Majmu 'syarah muhaddab hal: 298 juz :8 cetakan darul fikr
3. Hasiah umairoh hal 255 juz 4 cetakan toha putra
2.
Jumat, 12 Maret 2021
Nama nama sahabat yang pertama kali masuk islam.
Adalah para
sahabat baik dari sahabat muhajirin maupun sahabat anshor yang pertama kali mendapat seruan dari rasulullah
saw. Untuk masuk islam . mereka para sahabat yang yang mendapat jaminan dari
allah swt untuk masuk syurga.
Hal ini
berdasarkan nash alquran :Q.S Attaubah ayat 100.
Artinya; orang
orang yang terdahulu lagi yang pertama tama masuk islam dari golongan muhajirin
dan anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, allah ridha
kepada mereka dan mereka pun ridha
kepada allahdan allah menyediakan kepada mereka syurga syurga yang
mengalir sungai sungai didalamnya selama
lamanya.mereka kekal didalamnya.itulah kemenangan yang besar.
( q.s.
attaubah:100)
dibawah ini nama nama sahabat yang pertamakali masuk islam yang disebut sabiqunnal awwalun.
1. Khadijah binti
khuwailid
2. Ali bin abi
thalib
3. Abu bakar ash siddiq
4. Zaid bin
kharitsah
5. Utsman bin
affan
6. Zubair
7. Sa’ad bin abi
waqos
8. Thalhah bin
ubaidillah
9. Abdurrahman bin
auf
10. Abu ubaidah bin
jarrah
11. Abu salamah bin
abdu al asad
12. Arqom bin abi
al arqom
13. Utsman bin mazh’un
14. Ubaidah bin
alharits
15. Said bin zaid
bin amru
16. Asma binti
assiddiq
17. Khabab bin Al
arat al khaza’i
18. Umair bin abi
waqos
19. Abdullah bin
mas’ud
20. Mas’ud bin
robiah
21. Sulaith bin
amru
22. Iyasy bin abi
robiah
23. Istrinya asma
binti salamah
24. Khunais bin
khuzafah as sahmi
25. Amir bin robiah
26. Abdullah bin
jahsyi
27. Jakfar bin abi
tholllib
28. Istrinya asma
binti umais
29. Hathib bin
kharis
30. Istrinya Fatimah
binti al mujlal
31. Saudaranya khattab
32. Istrinya fakihah
binti yasar
33. Mu’mar bin
alharist
34. Saib ayah
utsman
35. Muthalib bin
bin azzar
36. Istrinya romlah
binti abi auf
37. Niham nuaim bin
abdillah
38. Amir bin
fahirah
39. Khalid bin said
40. Istrinya amimah
41. Khatib bin amru
42. Abu khudaifah
bin utbah
43. Waqid bin Abdullah
44. Kahalid
45. Amir
46. Aqil
47. Iyas
48. Ammar bin yasir
49. Shuhaib bin
sinan
50. Abu dzar
jundzab bin junadah
51. Abu najih amru
bin abassah assilmi.
Jumat, 02 Oktober 2020
Hukum Menikahi wanita Hamil mesum
Pernikahan pasangan mesum…..
Endro dan iyem adalah pasanngan mesum yang tertangkap basah saat melakukan hubungan haram di sebuah kamar kost. Sesuai adat istiadat setempat akhirnya mereka berdua di nikahkan dengan paksa oleh aparat desa . padahal saat itu iyem tengah hamil tiga bulan akibat hubungan mesumnya dengan laki laki .
Pertanyaanya
Sahkah akad nikahnya dua sejoli yang telah melakukan hubungan zina , bahkan telah hamil.
Jawaban
Hal ini berdasarkan riwayat ibnu Abbas r. a
عن إبن عباس رضي الله عنه فيمن فجر بإمرأة ثم تزوجها قال اوله سفاح وأخـره نكاح لابأس به (رواه البيهقي)
Artinya :
Di riwayatkan dari ibn Abbas perihal seseorang yang berbuat mesum dengan seorang wanita kemudian dia menikahinya . beliau menjawab : permulaanya haram dan akhirnya nikah yang tidak ada keharaman di dalamnya
الفقه على المدهب الأربع ( 1053 ) دارالكتب العلمية
( حكم نكاح الزنية ) الحنفية والشافعية قالوا : إذا زانـا رجلٌ بامرأةٍ يجوز له ان يتزوّجها وذلك لأن الماء الزّنا لا حرمت له ولما روي انّ رجلاُ فى زمن أبي بمرٍ الصديق بعد ذلك بعقدٍ صحيحٍ فجلّدهما ماىءة جلدةٍ لأنّهما غير محصنين ثمّ زوّج احدهما من الاخر ونفاهما سنّةَّ, وروى مثـل ذلك عن عمروبن مسعودوجابر بن عبداللَه رضي الله تعالى عنهم
وقال ابن عبّاس فى هذا الحكم : أوَّله سفاح وأخره نكاح والنكاح مباح فلا يحرّم السفاح النكاح , وذلم مثل رجلٍ سرق من حاءط ثمرة ثمّ أتى صاحب البستان فشتر منه ثمرة فما سرق حرام وما اشترى حلالــ .
Di dalam kitab fiqih madhahibul arba’ah halaman 1054 dijelaskan sebagai berikut..
Hukum menikahi wanita zina
Hukum menikahi wanita zina dalam hal ini para ulama pengikut hanafiyyah dan syafi’iyah berpendapat “ ketika ada dua pasangan zina maka boleh bagi laki laki tersebut menikahi wanita yang telah di zina dengan akad yang sah seperti apa yang telah diriwayatkan bahwa pada zaman abu bakar asidik pernah terjadi kasus demikian sehingga keduanya di jilid atau di cambuk sebanyak seratus kali karena keduanya bukan zina mukhson .
Didalam permasalahn ini ibn Abbas mengatakan : permulaanya adalah zina dan akhirnya adalah nikah sedangkan nikah itu diperbolehkan sementara zina tidak menjadi sebab haramnya nikah . beliau menganalogikan seperti halnya seseorang yang mencuri buah di kebun kemudian pemiliknya datang kemudian ia membeli buah di kebun itu . sehingga buah yang ia curi adalah haram sedangkan buah yang di beli adalah halal.
Sedangkan menikahi wanita hamil
Do'a Melahirkan Agar Lancar menurut Syech Sulaiman bin Muhammad bin Umar Al-Bujairami
Pengalaman melahirkan adalah momen yang penuh keajaiban dan kebahagiaan bagi setiap ibu. Namun, bagi beberapa wanita, proses melahirkan ju...















